Selasa, 18 Desember 2012

MARAH

Pria baik tidak akan pernah berteriak di hadapan perempuan untuk menunjukkan bahwa dia lebih benar atau berkuasa. Apalagi bila hanya untuk membuat si perempuan bersedih.

Sejak dulu, saya tidak suka sekali dimarahi, even itu saya yang salah, saya selalu melihat bahwa setiap kesalahan bisa kita perbaiki dengan tanpa harus berteriak atau membentak.

Iya saya tahu, kalau sedang emosi kita suk
a lupa diri. Maka dari itu sudah sepantasnya kita menjaga lebih dulu emosi kita sebelum terjadi apa yang namanya ‘lupa diri’.

Mau tahu kenapa saya tidak suka dibentak, dijutekin atau dimarahin?

Alasannya sederhana, saya punya bapak yang galak. Hahaha.. bapak saya itu, dulu adalah seorang guru, dia pelatih calon polwan atau polisi ketika mereka bersekolah. Tentu saja, pelatih memang diharuskan bersikap tegas dan keras. Maka tanpa disadari, itu pun terbawa dengan cara beliau mendidik anaknya di rumah. Sejak kecil, saya kerap mendengar bentakkan. Walau bentakkan itu bukan ditujukan kepada saya, tapi tetap saja saya yang masih kecil itu seringkali menciut.

Bapak saya itu, seumur hidupnya tidak pernah sekali pun memukul saya. Alhamdulillah ya, saya termasuk anak yang tumbuh besar tanpa sekali pun pernah dipukul. Paling Mama saya yang suka nyubit kalau saya kabur waktu di suruh tidur siang. Bapak saya? Bahkan mencubit pun beliau tidak pernah.

Tapi kakak laki-laki saya kesemuanya pasti pernah kena marah bapak saya. Ya beda lah ya, nakalnya anak laki-laki dan anak perempuan. Walau pun nyatanya saya waktu kecil kelakuannya lebih mirip cowok ketimbang cewek. Tapi bapak saya itu penganut paham, kalau anak perempuan sampai dipukul bapaknya, nanti dia pun akan dipukul suaminya. Mitos sih ya, tapi orang jaman dulu masih suka percaya sama pribahasa tersebut. Dan memang akan sangat tidak pantas seorang bapak memukul anak perempuannya sendiri.

Waktu kecil, saya pernah melihat teman perempuan saya disabet pake ikat pinggang sama ayahnya. Sekarang saya berpikir, sebesar apakah kesalahan yang bisa diperbuat gadis sekecil itu dulu. Haruskah sampai disabet pake ikat pinggang? Saya yakin, setelah kemarahan sang ayah reda, dia pasti menyesal sekali. Tapi percayalah, ingatan tentang hal tesebut sudah menempel permanen di kepala sang putri kecilnya. Bahkan dikepala saya yang hanya jadi saksi mata.

Lalu haruskah ‘lupa diri’ lagi-lagi dijadikan alasan?
Makanya, punya hobi itu mbok ya jangan marah-marah. Cari hobi lain lah. Hobi galau kek gitu kaya saya biar kreatif dikit. #eaaa

Saya selalu punya cita-cita; nanti saya akan cari ayah untuk anak saya yang tidak suka berteriak atau membentak saat marah. Amin ya Allah. Semoga Allah masih nyisain pria seperti itu untuk saya, hahaha..
Itu kenapa saya suka sekali dengan manusia yang murah senyum. Yang tidak suka cemberut, seberapa pun buruk harinya dijalani. Adem. Berada di dekatnya saja, saya pasti merasa tenang. Pasti kece banget kalau saya punya suami yang demikian. Yang sabar, yang mampu membuat saya menurut dan hormat padanya bukan karena saya takut dia marahin. Tapi karena saya malu berbuat salah di hadapan pria yang begitu baik dan santun kepada saya. Subhanaullah :)

Bahkan biasanya, fisik yang saya lihat dari seorang pria itu ‘senyum’nya. Barulah bagaimana cara matanya menatap. Apa tatapan itu melegakan, atau kah tatapan itu justru mengintimidasi saya detik itu.

Aih, pria yang tatapannya saja sudah melegakanmu. Indah sekali ya pasti bisa menatap mata seperti itu setiap kali kamu terbangun di pagi hari.

Percayalah, amarah tidak akan pernah membuat seseorang mengerti di mana letak kesalahannya. Itu hanya akan membuat seseorang takut untuk melakukan hal yang sama, dan rasa takut itu bisa hilang kapan saja.

Pria sejati, tidak akan pernah berteriak dan membentak perempuan yang tidak dia kenal. Apa lagi perempuan yang dia sayangi.

Sayang itu menjaga bukan menggurui. Sayang itu melindungi bukan menguasai.

Setidaknya seperti itu-lah 'sayang' di kepala saya.
 
 
 FALAFU
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar