Senin, 11 Juni 2012

Teruntukmu, Bumi :*


Aduh… Mulai ceritanya dari mana ya? Hmm cerita ini aku buat khusus buat kamu, “bumi”. Aku yakin kamu tidak akan pernah membaca cerita ini. Karena mungkin kamu sedang sibuk di luar sana. Mengapa aku memanggilmu “bumi”?  Nama kamu itu adalah ARDY. Ya, dalam bahasa Arab nama mu itu berarti BUMI. Nama khusus yang aku kasih buat kamu. Seperti halnya bumi, meyejukkan, meneduhkan dan melindungi.


Siapa yang tak kenal dengan sosokmu. Kamu adalah dambaan kaum hawa di sekolah ini. Kamu mempunyai daya tarik yang cukup kuat untuk mengalihkan duniaku dengan sejuta pesona yang kamu miliki. Aku iri dengan mereka yang dapat melihat senyummu dengan bebas. Aku iri dengan mereka yang dapat duduk berdampingan bersamamu. Aku iri dengan mereka yang dengan leluasa menyapamu terlebih dahulu. Tapi aku masih senang mencintaimu seperti ini, karena aku masih senang menatap senyummu sembunyi-sembunyi

Bel pertanda pulang sudah berbunyi. Ini saatnya aku pulang. Aku dan teman-temanku pergi menuju kantin karena cacing sudah pada konser di dalam perut.
            “Menurut kalian cowok yang paling keren di kampus kita itu siapa sih?” Cetus Kirana.
            “Kalau menurutku yang keren itu ya cowok yang pake tas ransel cokelat, sepatu cokelat, terus dia sering pake kemeja. Ga terlalu tinggi sih, tapi cocok kok buat kita-kita.” Jawabku sambil melirik Bumi.
            “Nah itu loh cowok yang menurutku paling keren. Itu yang lagi duduk meja no 14, tepat di sebelah kanan kita.” Kata Kirana sambil menunjuk Bumi.
            “lohh itu dia yang aku bilang tadi kirana sayang.” Jawabku penuh sinis.
            “Oh jadi dia yang kamu maksud. Gebet deh sana. Cakep loh pinter lagi.”

            Aku minta temen kamu buat kenalin kamu ke aku. Oh iya aku masih dapat mengingat dengan jelas waktu kita menghadiri Acara Hari Guru Nasional. Kamu datang dengan sejuta pesona, mengenakan jas berwarna hitam, sepatu kets cokelat, tas nyamping kecil, dan perfume yang wanginya masih dapat ku ingat dengan jelas. Dag dig dug. Jantungku bergetar lebih cepat dengan cepat ketika kamu berdiri sejauh 10 cm dihadapanku.
            “Ardy ya?”
            “Iya. Kenapa?”
“Eh kenalin aku Denia.”
“Oh Denia yang waktu itu diceritain si Nanda ya?”
            “ha? Iya. Emang Nanda cerita apa aja tentang aku?”
            “Nanda banyak cerita loh tentang kamu. Kalo ga salah kita satu ospek kan dulu? Catet no hp kamu dong”

            Wow percakapan aku dan Bumi semakin panjang. Aku senang karena aku dapat melakukan apa yang orang lakukan ke kamu, menyapamu terlebih dahulu. Ah aku memang tak sebebas mahasiswi yang lain. Aku hanya bisa keluar asrama pas weekend aja. Saturday is coming right now. Aku langsung aja suruh kamu main ke rumah aku. Awalnya, Bumi nolak, tapi setelah aku bujuk ternyata Bumi mau datang ke rumah aku. Rasanya itu seneng banget. Kamu datang menggunakan kaos warna biru. Biru itu warna kesukaan aku loh. Kamu melengkungkan bibirmu, membentuk ssenyum simpul di wajahmu. Manis, sungguh manis.
           
            “Langit” itulah panggilan yang kamu berika ke aku. Karena aku manggil kamu Bumi, makanya kamu manggil aku Langit. Haha. Lucunya kita dengan panggilan sayang kita. Mmm bukan hanya kita, teman-teman aku juga memanggil kita dengan sebutan seperti itu. Aku senang. Panggilan khusus yang diberikan seseorang yang kita sayang memang memiliki sense tersendiri.

            Jarak rumahmu ke rumah aku ga jauh. Hanya berkisar 5 menit. Kita menghabiskan malam Minggu ini berdua, bagaikan utri dan pangeran. Kamu membawa gitar. Kamu menyuruhku untuk menyanyikan beberapa lagu dan Bumi yang bermain gitar. Ah indahnya masa-masa itu. Aku itu orangnya ga sabaran. Langsung aja deh aku Tanya ke kamu kalo kamu itu udah punya pacar atau belum? Dan kamu hanya membalas pertanyaanku dengan sebuah senyuman. Aku tidak mendapatkan jawabannya malam itu. Pria ini sungguh misterius. Dengan kemisteriusannya, Bumi terlihat makin cakep dan romantiss.

            Hari-hari berikutnya aku mencoba mecari tahu tentangmu. Dan aku mendapat sebuah informasi yang mengejutkan dari salah seorang temannya Bumi, panggil saja dia Nina. Nina bilang kalau kamu itu sudah mempunyai sorang kekasih. Aku idak begitu mempercayai Nina. Nina bilang aku harus check faceboknya Bumi. Dan setelah aku check fb nya Bumi, ternyata Bumi memang sudah mempunyai seorang kekasih. September besok hubungan kalian sudah menginjak tahun ke 5. Mengejutkan! Bagaimana mungkin aku jatuh cinta dengan sosok yang sudah menemukan belahan jiwanya?

            Aku bingung ketika aku diletakkan dalam kondisi seperti ini. Aku mencoba melupakan status “In Relationship antara kamu dan pacar kamu. Aku habiskan malam mingguku selalu bersama kamu. Kamu memnerikan harapan kecil ke aku.  Kamu selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Kamu selalu memberiku perhatian yang cukup. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan seseorang. Ketika aku mencari bantal untuk bersandar, aku menemukannya di kamu, tepat di bahumu. Itu yang membuat aku makin sayang dan cinta ke kamu.

            Tiba-tiba aku melihat status pacarnya Bumi, “Aku bingung dengan sikapmu. Kamu lebih memilih cewek yang baru kamu kenal 5 menit daripada cewek yang kamu kenal 5 tahun mendampingi kamu. Yang selau ada buat kamu. Buang semuanya! Tinggalkan aku disini! Cukup sampai disini dan TERIMAKSIH”. Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku telah mengganggu hubungan mereka.

Aku sadar, tak selayaknya aku mencintai orang yang telah memiliki seorang kekasih. Aku mencoba menjauh darimu. Itu sangat menyakitkan. Aku mencoba membuka hati aku untuk pria lain meskipun aku tau ini bukan cara yang tepat. Karena sejujurnya, aku masih begitu mencintai kamu bumi. Setelah lost contact dengan Bumi, aku langsung berpacaran dengan Fajar. Apesnya, aku ga cinta sama Fajar, bahkan ga ada rasa sedikitpun. Hubungan aku sama Fajar hanya satu minggu. Karena aku sadar, aku ga biisa bohongin diri aku sendiri kalo aku itu masih sayang dengan Bumi.  Setelah itu, Aku dan Fajar putus.

Semenjak itu sikap Bumi ke aku dingin. Sekedar menolehku saja tidak, apalagi menyapaku. Sms ku diabaikan. Telfonku tak lagi diangkat. Aku mencoba menyapamu terlebih dahulu. “Bumi. Apa kabar? Sombong banget.” Bumi tak membalas sapaanku. Dia hanya membalas dengan sebuah senyuman. Tak lama setelah itu, kamu berbicara ke aku.
“Maaf. Bukannya aku sombong ke kamu Langit. Aku bener-bener punya masalah yang cukup rumit. Ada seorang pria yang sangat mencintai perempuan itu dengan tulus. Tiba-tiba ada perempuan lain yang masuk di kehidupan kami. Dan bodonya pria itu adalah kalau pria itu juga sayang sama cewek yang baru dia kenal itu. Pria itu bingung karena dia harus bisa meilih antara 2 perempuan itu. Tiba-tiba sahabat pria itu dekat dengan perempuan yang baru dikenalnya. Aku ga mungkin merebut perempuan itu dari sahabatku sendiri.Semoga perempuan itu bahagia dengan seseorang yang telah dia pilih” Bumi berbicara sambil senyum-senyum penuh arti.

Aku hanya bisa tertunduk. Pipiku dingin, seperti ada air yang keluar dari pelupuk mataku. Aku sadar semua ini salahku, Bumi. Aku hanya bisa minta maaf ke kamu. Maaf atas segala kebodohanku. Karena aku sudah mengganggu hubungan kamu. Dan kamu bilang ke aku “Selamat nikmatin keputusan bodohmu itu ya Langit. Semoga kamu bahagia bersama orang pilihan kamu. Aku disini akan terus mencintai kamu. Mencintai tidak harus saling memiliki, kan?”

Sejujurnya aku juga sayang sama kamu. Tanggal 21 bulan ini, kamu ulang tahun kan? Aku akan membuat surprise buat kamu. Tepat di hari ulang tahunmu aku telah menyiapkan sesuatu yang special buat kamu. Dari sekian cowok yang pernah deket sama aku, Cuma kamu yang berhak mendapatkan cinta ku, Kamu pemenangnya, Bumi. Love you more than you know lah :*

Bumi dan langit..
seperti halnya kita.
Saling membutuhkan dan saling melengkapi
Tapi tak bisa saling memiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar