Minggu, 10 Juni 2012

Love me or Leave me


Remaja emang ga pernah lepas dari yang namanya percintaan, roman picisan, dan segala hal yang berbau dengan CINTA. Ini memang bukan pertama kalinya aku bermain dengan yang namanya cinta. Baru-baru ini, aku dekat dengan seseorang cowok yang cukup “luar biasa”.  Hmmm sebut saja dia Angkasa. Dia adalah tipe cowok pecinta alam, sama dengan hobiku. Manis sih, cakep lagi.


Adakah orang yang setia memperhatikanmu, bahkan sebelum terjadinya sebuah pertemuan? Aku rasa tidak. Percakapan kita tidak lebih dari satu bulan. Bahkan kita sama sekali  belum pernah bertemu. Tapi, tak ada satu hal pun yang tak ku ketahui tentangmu. Selancar dan mendaki gunung adalah sebagian kecil dari hobimu. Beberapa hari sebelum aku kenal kamu, temen aku ada yang ngajakin buat journey akhir tahun gitu ke sebuah gunung di kota ini. Dan kayaknya kita emang ditakdirin buat bertemu. Tiba-tiba kamu meng-upload foto di salah satu jejaring social. Foto itu pas kamu sedang mendaki gunung. Ahh sepertinya dewi fortuna sedang berada disampingku saat ini. Aku langsung ambil kesempatan deh buat nanya-nanya tentang mendaki gunung. Hitung-hitung sambil jalan buat pedekate deh.

Mula-mula emang cuma nanya tentang itu ke itu aja sih. Tapi, beberapa hari kemudian percakapan kita mulai merembes ke yang lain, agak sedikit serius. Ternyata ada banyak kesamaan antara kita. Kita yang sama-sama suka panorama alam, kita sama-sama suka mendaki gunung dan berselancar, bahkan kita lahir di bulan yang sama. Kita mulai menemukan kecocokan dalam diri kita. Menurutku, kesamaan itu adalah awal yang baik dalam sebuah hubungan.

Singkat cerita, aku dan kamu mempunyai hobi baru yaitu telfonan hingga larut malam dan mengirim foto. Haha lucu sih. Tapi, ya itulah kita. Walaupun kita belum pernah bertemu sekalipun, tapi aku merasa kalo kita itu sudah dekat dan sudah kenal cukup lama. Terus waktu itu kamu bilang gini ke aku,         “Kalau aku sudah sayang sama seorang cewek, aku ga bakal lepas dia. Dan aku berjanji untuk selalu melindungin dia”. Aku masih belum habis fikir kenapa kamu bilang kayak gitu ke aku. Kamu seperti membuat harapan kecil untukku. Tiba-tiba seperti ada kupu-kupu yang terbang bebas dalam perutku. Bagaimana rasanya? Aku pun tidak tahu bagaimana rasanya. Magis! Absurd! Tidak dapat dilogiskan.

Tak lama setelah itu, aku mencoba mencari tahu lebih lanjut tentangmu. Dari awal, aku sudah bilang kalo kamu itu luar biasa. Siapa yang tak kenal dengan keluargamu? Orangtuamu adalah seorang keluarga terpandang. Banyak yang bilang kamu adalah anak yang manja. Kamu tiroyal kalo masalah uang.Banyak yang suka kamu karena materi yang kamu punya. Dan, setelah saya cari informasi tentang kamu hasilnya Mengejutkan! Sungguh mengejutkan. Pokoknya banyak informasinya deh. Dan aku seneng karena aku tahu banyak tentangmu. Seneng, tapi juga takut. Takut kalo aku bukan orang yang pantas buat kamu.

Masalahnya, kamu pernah bilang ke aku kalo kamu pernah punya pacar. Kamu begitu sangat menyayangi dia, mencintai dia dengan seluruh nafas yang kamu punya. Tapi cewek yang kamu cintai tiba-tiba menikah dengan cowok lain. Cewek yang kamu cintai meninggalkanmu tanpa alasan yang jelas. Semenjak itu ula, kamu tidak pernah lagi jatuh cinta. Dan bolehkah kalo aku berargumen kalo cewek-cewek yang kamu dekatin dan kamu pacarin itu hanya untuk mengilangkan jenuh saja. Hanya untuk mengusir bosanmu. Aku takut kalo aku adalah salah satu dari cewek itu. Aku takut. Sungguh.

Semenjak aku berargumen seperti itu, sikapmu berubah. Tak ada lagi yang memperhatikanku seperti kamu memperhatikanku. Tak ada lagi emote kiss yang menyelinap masuk ke dalam handphoneku. Tak ada lagi yang menyuruhku untuk tidak telat makan. Tak ada lagi yang mengingatkanku untuk sholat. Tak ada lagi yang menelfonku dengan nada seindah kamu. Sedewasa apapun orang, mereka akan lebih senang kalo diperhatikan. Bahkan, untuk sekedar mengirim pesan singkatpun kamu tidak sempat.

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Awlanya aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tak ada kabar darimu. Aku muali mengikhlaskan dia. Tohh aku sadar baha dia bukan siapa-siapanya aku. Tiba-tiba ada sebuah pesan singkat menyelinap di handphoneku. Itu adalah pesan singkat darimu. Yang isinya “Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Dan aku kangen kamu”. Betapa bahagianya saya sesaat setelah membaca pean singkatmu. Aku harap, kamu bakal selalu ada untukku hingga kita bertemu nanti. Aku harap, kamu bakal menjadi dermaga pelabuhan cintaku.

Ternyata aku salah. Kamu menghilang lagi setelah seminggu berlalu. Dan lagi-lagi tak ada kabar darimu. Di telfon ga pernah diangkat. Di sms ga pernah di bales. Terakhir kamu sms Cuma bilang “Aku ga mau buat kamu kecewa. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. Percayalah.” Kamu benar-benar menguras otakku untuk memikirkan ini. Aku juga sayang kamu. Permainan apa yang sedang kamu mainkan? Apa kamu sadar apa yang telah kamu lakuin? Kamu sudah berhasil membuat aku sayang ke kamu. Tapi kamu malah meninggalkanku seperti ini.

Tak ada yang bisa membendung kangenku. Sudah larut malam dan aku belum bisa behenti memikirkanmu. Aku kangen kamu. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.31 WIB dan aku mencoba menelfonmu. Aku tau kalau kamu ga akan pernah mengangkat telfon dariku.  Aku ga tau apa salahku ke kamu. Aku ga tau apa kamu sudah punya pacar atau belum sekarang ini. Aku hanya bisa menyerahkan semua ini kepada Tuhan. Siapa sangka nomor hp mu aktif dan ternyata  kamu mengangkatnya.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. “Halo. Ini sudah malam. Gadis sepertimu tak seharusnya tidur larut malam seperti ini. Kamu gila. Besok itu kamu haus sekolah pagi-pagi sekali. Tidurlah.” Aku tak dapat berkata sepatah katapun hanya air mata yang keluar dari pipiku. Taukah kamu bahwa mendengarkan suaramu itu seperti mendengar suara symphoni surgawi. Merdu sekali.  Mungkin karena aku terlalu kangen kali ya.

Aku mencoba berbicara meskipun susah sekali untuk membuka mulut ini. Aku mencoba jujur ke kamu. “Aku kangen kamu. Aku sayang kamu. Jangan tinggalin aku lagi.”  Kamu juga membalas rinduku. Aku menikmati percakapan itu dengan penuh damai. Dengan sedikit kebawelanku. “Bawel” itu adalah panggilan khusus untukku. Ahh memangnya sebawel apakah diriku?

Lagi-lagi kamu bercerita tentang ombak dan papan seluncur. Aku senang. Suasana menjadi hening penuh kedamaian. Aku suka itu. Terakhir kamu bilangh kamu ga akan ninggalin aku. Kamu bakal selalu lindungi aku. Tapi setelah beberapa hari kamu berbicara itu ke aku, kamu lagi-lagi melakukan hal yang sama.

Untuk yang kesekian kalinya kau meninggalkanku tanpa lasan yang jelas. Aku muak. Aku kecewa. Aku capek dengan keadaan seperti ini. Seolah-olah kamu mainini perasaan aku. Mungkin apa yang dibilang temen-temen kamu itu ada benarnya juga. Aku sadar kalo aku hanyalah salah satu boneka yang digunakan untuk penghilang rasa jenuh dan just for have fun not for love. Aku rasa kamu harus membuat keputusan sekarang juga. Cintai aku atau tinggalkan aku?! 




Kalau memang kamu mencintai aku,
Kita akan bertemu di Puncak Gunung,
akhir tahun ini !
Aku menunggumu disitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar