Di pagi yang cerah, seperti biasa Vivi merapikan buku-bukunya untuk sekolah.
“La..la…la…la….” Suara merdu nya mengiringi segala kegiatannya di pagi itu. Ketika semua sudah selesai, dan segalanya telah di persiapkan, Vivi segera memakai sepatunya yang di taruh di bawah lemari.
“La..la…la…la….” Suara merdu nya mengiringi segala kegiatannya di pagi itu. Ketika semua sudah selesai, dan segalanya telah di persiapkan, Vivi segera memakai sepatunya yang di taruh di bawah lemari.
“Ekh…… susah banget sih…! Akhirnya kakiku masuk juga.” keluhnya.
Memang ukuran sepatu Vivi agak kecil, karena sudah dari dulu Vivi belum membeli lagi, itulah sifatnya. Vivi adalah seorang anak yang hemat, tidak suka berneko-neko, rapi, dan rajin. Makanya, orang tua Vivi sangat bangga dengan anak semata wayangnya tersebut.
Setelah sepatu di kakinya terpakai rapi, saatnya berangkat ke sekolahnya. Vivi bersekolah di SMA Negeri 28 Dibilangan Jakarta. Orang tuanya memang sangat memperhatikan Vivi, hingga akhirnya Vivi dimasukkan ke dalam SMA favorit di kota itu.
Memang ukuran sepatu Vivi agak kecil, karena sudah dari dulu Vivi belum membeli lagi, itulah sifatnya. Vivi adalah seorang anak yang hemat, tidak suka berneko-neko, rapi, dan rajin. Makanya, orang tua Vivi sangat bangga dengan anak semata wayangnya tersebut.
Setelah sepatu di kakinya terpakai rapi, saatnya berangkat ke sekolahnya. Vivi bersekolah di SMA Negeri 28 Dibilangan Jakarta. Orang tuanya memang sangat memperhatikan Vivi, hingga akhirnya Vivi dimasukkan ke dalam SMA favorit di kota itu.
“Saatnya going to school deh… Hmmm… mudah-mudahan sampai di sekolah gak ada masalah kayak kemarin lagi ah… jadi sebel…!” Cetus Vivi. Ya, memang akhir-akhir ini Vivi sedang ada masalah dengan sahabat kecilnya yang bernama Rita. Dari kemarin, Rita seperti tidak memperdulikannya lagi. Kian hari, dia selalu acuh padanya. Hal ini membuat Vivi bertanya-tanya. Ketika sampai di sekolah, Vivi kembali di kejutkan oleh Rita yang sedang bermain-main bersama yang lain di koridor sebelahnya, padahal dia sendiri tidak di pedulikan dengan Rita. Vivi hanya dapat mengelus dada saja.
“Hufffttt….. rasanya hari hanya lewat saja, bagai kapas melayang. Hidupku cuma seperti robot yang dikendalikan. Suatu saat bisa dimatikan oleh yang punya. Kenapa ya… penyakit ini harus ada pada aku? kenapa yang lain gak? Aku udah seneng karena punya sahabat sejati, tapi sekarang…. Dia juga menjauh dari aku…”Keluhnya di halaman belakang sekolah.
Vivi mempunyai sebuah penyakit yang kecil harapannya untuk bisa sembuh. Yaitu, penyakit kanker darah atau leukimia akut. Hidupnya hanya tinggal beberapa minggu saja. Gejala-gejala sakitnya mulai terasa. Jika sudah seperti ini, dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan YME. Rita pun mengetahui hal ini, namun dia tidak tahu bahwa hidup sahabatnya itu tinggal menunggu hari saja.
Kringgg…kringg…. Jam pulang sekolah pun berbunyi.
“Rita…!” Panggil Vivi yang melihat Rita keluar dari kelasnya.
“Eh, Vivi. Iya, ada apa?” Sahut Rita.
“Temenin aku ke toko buku yuk..!” Ajak Vivi
“Vi, kamu sebagai sahabat aku, masa enggak tahu sih aku jadwalnya apa? Aku itu lagi ada latihan ngedance bareng temen-temen, jadi maaf aku enggak bisa temenin kamu ke toko buku.” Kata Rita.
“Cuma buat 1 jam?” Pinta Vivi.
“Aku bilang Enggak, ya enggak..!” Bentak Rita sembari meninggalkan Vivi sendirian di depan gerbang sekolah.
Tanpa terasa air mata Vivi menetes, mukanya merah, dan badannya menjadi lemas. Itulah yang di rasakkan Vivi ketika dirinya merasa sedih berat, terkadang dia sering juga pingsan.
“Untuk seorang sahabat sejati, meluangkan waktu jam untuk sahabatnya, bukan hal yang berat…” Ucap Vivi sambil terisak-isak. Hari demi hari Vivi lewati tanpa Rita. Dia hanya bisa menyendiri di belakang kelas sambil meratapi nasibnya yang semakin hari, semakin memburuk.
Suatu hari mama Vivi dikejutkan oleh teriakkan Vivi dari kamar. Segera mamanya menuju ke kamar Vivi.
Suatu hari mama Vivi dikejutkan oleh teriakkan Vivi dari kamar. Segera mamanya menuju ke kamar Vivi.
“Aduh…….!!!!!!! Sakit…!!! ” Teriak Vivi.
“Sayang kamu kenapa?” Tanya mamanya dengan badan yang gemetar. Karena mamanya sudah mempunyai firasat buruk pada Vivi.
“Sakit, Ma….! Kepala Vivi pusing sekali, badan Vivi dingin, Ma…!” Ucap Vivi sambil
memegangi kepalanya yang terasa sakit tersebut.
“Iya sayang……. Mama tau… Ayo kita ke rumah sakit sekarang..!” Bujuk Mama Vivi.
Ketika sampai di rumah sakit, Vivi dibaringkan di tempat tidur dan diperiksa oleh dokter pribadi Vivi. Setelah di pindahkan di kamar rawat, dan di beri obat penghilang rasa sakit, Vivi kembali tenang dan keadannya pulih kembali. Tiba-tiba Vivi meminta mama nya untuk mengambilkan handphone milik Vivi di kantong jaketnya.
“Ma, tolong ambilkan handphone Vivi donk..” Pinta nya
“Ini sayang…” Mamanya memberikan handphone Vivi sembari meminum teh hangat yang dibelinya.
“Makasih ya, Ma….”Kata Vivi.
“Makasih ya, Ma….”Kata Vivi.
Vivi ingin mengirimi pesan untuk Rita, bukan untuk menjenguknya, bukan juga untuk memberitahu Rita tentang dirinya. Namun, Vivi ingin memberikan ucapan terakhir untuk Rita. Isinya adalah:
To: Rita
Hay Rita….! Lagi ngapain nih..? Lagi latihan ngedance ya? Maaf kalo aku ganggu ya…?
Rita.. aku pengin bilang sesuatu ke kamu. Tolong ya, kamu jangan sms aku, jangan telfon aku, jangan temui aku, juga jangan cariin aku. Kamu boleh dateng dan cariin aku, kalo kamu udah bener-bener rindu sama aku. Oke???
Rita.. aku pengin bilang sesuatu ke kamu. Tolong ya, kamu jangan sms aku, jangan telfon aku, jangan temui aku, juga jangan cariin aku. Kamu boleh dateng dan cariin aku, kalo kamu udah bener-bener rindu sama aku. Oke???
By: Vivi.
Itulah sms yang dikirim buat Rita. Dirumah Rita, dia pun membaca sms dari Vivi.
“Maksudnya apa ya..? Emangnya kenapa sih..?” Rita pun menunjukkan muka herannya.
Sudah 3 hari Vivi tidak masuk sekolah. Ini yang dimaksud oleh Vivi untuk Rita.
Rita pun mulai merasa rindu kepada sahabatnya. Biasanya, ada yang menyuruhnya dia istirahat, ini tidak ada satu kata pun. Akhirnya Rita menuruti sms dari Vivi. Dia datang ke rumah Vivi dengan sepeda miliknya.
Namun, Rita kaget sekali. Karena di depan rumah Vivi terdapat bendera kuning, dan dilihatnya orang tua Vivi menangis terisak-isak. Juga dilihatnya Vivi terbujur kaku ditutupi oleh kain putih. Spontan saja, Rita berlari meninggalkan sepedanya di luar, dan menuju ke dalam rumah Vivi. Ritapun menangis di depan jenazah Vivi yang sudah pucat, dan kaku tersebut. Rita memeluk dan mencium Vivi untuk terakhir kalinya. Mama Vivi pun memberikan sepucuk surat untuk Rita, Mama Vivi berkata pada Rita itu surat titipan Viv untuknya.
Isi suratnya:
To: Rita sahabatku,
Rita, kamu jangan sedih atas kepergianku… Aku sudah tau akan kematianku, jadi aku buru-buru menulis surat ini untuk kamu.
Rita, kamu sudah berhasil melakukan apa yang aku mau, dengan tidak menemui aku, melepon aku dan mencari aku, tapi bisakah kamu melakukan untuk aku selamanya…? Aku yakin kamu bisa melakukan itu. Jangan nangis Rita kalo kamu ingin curhat datang saja ke makam ku, kalo kamu kangen aku peluk saja nisan dan fotoku, tapi kalo kamu nangis aku enggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu, karena aku enggak akan bisa bangun untuk menghapus air mata kamu…. Ya??? Janji ??? Ya udah aku pergi dulu ya..?? Bye..!
By; Sahabatmu, Vivi…..
Itulah terakhir kalinya Rita melihat wajah Vivi, hingga akhirnya Vivi meninggalkan Rita untuk selama-lamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar